
Gigi anak
merupakan bagian tubuh yang hidup, seperti juga anggota tubuh lainnya, walaupun
tampak seperti benda keras
Gigi sering
terancam oleh kebiasaan buruk dan menu makanan yang memungkinkan mulut menjadi
asam. Kondisi ini menjadi suatu lahan yang subur bagi berkembangnya bakteri,
sehingga terjadi karies gigi/gigi berlubang atau yang sering disebut “gigis”.
Hal ini terjadi karena email (lapisan gigi yang paling luar) rontok akibat
kontaminasi oleh asam
Asam tersebut
dibentuk oleh bakteri mulut dari karbohidrat yang masuk berupa makanan manis
dan gula. Untuk itu, penting menjaga kondisi mulut tetap normal, yang berarti
memelihara keseimbangan asam dan basa. Asam diproduksi dalam beberapa menit,
dan efek pada saliva dimulai dalam 15 – 20 menit.
Usia 0
– 6 bulan
- Pertumbuhan gigi belum ada
-
Cara memelihara
kesehatan mulut adalah dengan membersihkan gusi dan lidah dengan kassa bersih
dan air hangat. Dilakukan setelah menyusu. Tindakan ini untuk membersihkan
sisa-sisa susu yang menempel pada gusi dan lidah. Ini merupakan awal
perawatan kesehatan gigi anak
-
Hal yang harus diwaspadai : adanya infeksi
jamur (seperti buih susu berwarna putih), melekat pada jaringan lunak mulut. Saran : bersihkan
mulut bayi dengan kain kassa steril/kapas, dibasahi air hangat. Olesi jaringan
mulut dengan gentian violet memakai cotton bud. Rujuk ke puskesmas bila tidak
sembuh
Usia 6
– 12 bulan
- Pertumbuhan 8
gigi anterior rahang atas dan rahang bawah
-
Setelah tumbuh
gigi, sikatlah gigi bayi dengan sikat paling lembut sedikitnya 1 kali sehari
tanpa pasta gigi dengan posisi kepala bayi di pangkuan ibunya
-
Telah disebutkan sebelumnya bahwa kondisi
asam dalam mulut yang menyebabkan gigis. Maka, salah satu cara yang bisa
dilakukan adalah menghindari/menghilangkan kebiasaan buruk, seperti ngemut makanan terlalu lama dan ngedot susu formula maupun ASI saat
malam hari sebelum tidur. Kedua kondisi tersebut
memungkinkan mulut dalam kondisi asam terlalu lama, tanpa memberikan kesempatan
produksi saliva (basa) yang membantu menetralisirnya. Hal ini juga berlaku bagi
anak-anak di segala usia dalam pertumbuhannya.
-
Hal yang harus diwaspadai : karies botol susu. Saran : susuilah
anak dengan ASI, kalau terpaksa harus pakai susu botol jangan memakai gula,
agar anak nantinya tidak terlalu suka permen. Juga harus menghindari pemberian susu
botol/ASI sampai anak tertidur
-
Seringkali orang tua tidak tahu bahwa
menggosok gigi / membersihkan mulut anak sebelum tidur tidak ada gunanya bila
setelah itu ibu juga memberi susu kepada anak dengan alas an kenyamanan (mudah
tidur)
-
Maka : Hindari kebiasaan
minum susu sebelum tidur meskipun gigi sudah dibersihkan/disikat. Susu akan
meningkatkan keasaman mulut, yang membuat bakteri perusak gigi lebih mudah
berkembang. Sebaiknya memberikan susu di pagi dan siang hari, saat anak banyak
beraktivitas
-
Jika anak biasa
ngedot/minum susu sebelum tidur, sebaiknya ganti susu dengan air putih. Jika
anak belum terbiasa, sebaiknya campurkan susu sedikit dengan air putih yang
banyak
-
Hindarkan anak
dari kebiasaan ngemut makanan terlalu lama. Kebiasaan ini juga meningkatkan
keasaman dalam mulut. Berikan makanan saat anak benar-benar lapar dan dalam
takaran sedang. Secara psikologis anak tidak merasa terbebani dengan menu yang
berlebihan. Jika perlu beri makan saat ia bermain, sehingga lebih mudah
mengunyahnya. Untuk mengubah perilaku anak, tentu saja harus secara bertahap
dan perlu kesabaran orang tua.
-
Kebiasaan
tersebut harus terus dilakukan hingga gigi-geligi anak tumbuh. Pada suatu saat,
ketika gigi sudah semakin banyak, anak perlu diperkenalkan dengan sikat gigi
secara bertahap
Usia 12
– 24 bulan
- Gigi geraham
mulai tumbuh, dan pada usia 18 – 24 bulan semua gigi sulung telah tumbuh
lengkap
-
Hal yang harus
diwaspadai : karies gigi geraham. Saran : bersihkan
gigi setelah makan atau minum susu. Bila ada gigi berlubang, bersihkanlah
lubang pada gigi. Rujuk ke dokter gigi/Puskesmas. Hindari jajanan yang manis
dan lengket di antara waktu makan, yaitu di antara makan pagi dan siang, juga
di antara makan siang dan malam
-
Bila gigi atas
dan bawah sudah tumbuh lengkap, dan anak bisa berjalan, sebaiknya latih anak
menyikat gigi dengan air matang. Menyikat gigi harus dibantu ibunya dari
belakang. Pasta gigi diperkenalkan setelah anak mahir mengeluarkan busa pasta
(biasanya pada usia 2 – 3 tahun), menggunakan pasta gigi yang mengandung
fluoride yang tidak manis. Sekalipun anak sudah mahir, ada baiknya hanya
memberi sedikit saja setiap menyikat gigi, mencegah pasta gigi tertelan, karena
dapat menyebabkan fluorosis (bercak pada gigi). Catatan : Pemberian fluor
secara lokal sebaiknya dilakukan segera setelah gigi keluar(erupsi). Gigi yang
baru keluar memiliki tubuli (pori-pori) yang masih besar-besar pada mahkota
sehingga dapat menyerap fluor lebih banyak.
-
Pilihlah sikat
gigi yang menarik, warna maupun disainnya. Kalau perlu yang berbunyi agar anak
tertarik seperti pada mainan. Dengan demikian anak akan mudah diajak berlatih
membiasakan diri menyikat gigi
-
Mengenalkan
kebiasaan menyikat gigi tidak selamanya di kamar mandi. Bisa dilakukan di mana
saja, yang penting anak benar-benar menikmati
-
Sikat gigi
minimal dua kali sehari, sesudah sarapan dan sebelum tidur
Usia 24
– 36 bulan
- Pertumbuhan gigi
geraham tetap sudah dimulai
-
Anak sudah bisa
menyikat gigi sendiri. Tetapi anak tetap perlu dibimbing/diawasi untuk tetap
menyikat gigi dua kali sehari dengan cara yang benar.
-
Hal yang harus
diwaspadai : Kebiasaan mengisap jari, menggigit bibir bawah, menggigit kuku,
dan menggigit benda-benda seperti pensil. Kebiasaan ini akan menimbulkan posisi
gigi depan anak maju ke depan atau “tongos”. Saran : susuilah
bayi sedikitnya sampai umur 2 tahun. Bila sampai usia 3 tahun masih menghisap
ibu jari, dianjurkan : a) Ibu lebih memperhatikan anaknya, b) Olesi jari dengan
bahan pahit yang tidak beracun, misalnya brotowali/kina
Cara
menyikat gigi anak
- Kumur-kumur sebelum menyikat gigi
-
Untuk Balita,
siapkan sikat gigi kecil dan pasta gigi yang mengandung Fluor. Banyaknya kurang dari
setengah centimeter
-
Sikatlah semua
permukaan gigi atas dan bawah dengan gerakan maju mundur dan pendek-pendek (1 –
2 cm) selama kurang lebih 2 menit : a) Sikat seluruh bagian luar gigi atas, b) Sikat seluruh bagian luar gigi bawah, c) Sikat seluruh bagian dalam gigi atas dan bawah. Arahkan sikat dari atas ke
bawah untuk gigi rahang atas, dan dari bawah ke atas untuk gigi rahang bawah, d) Jangan lupa sikat seluruh permukaan gigi atas dan bawah yang dipakai untuk
mengunyah
-
Setelah permukaan
gigi selesai disikat, kumurlah satu kali saja (maksimal 3 kali) agar sisa Fluor
masih ada di gigi.
-
Bersihkan sikat
gigi dengan air dan simpanlah sikat gigi tegak, dengan posisi kepala sikat gigi
berada di atas
-
Sikatlah gigi
sekurang-kurangnya dua kali sehari : pagi sesudah sarapan dan malam sebelum
tidur
Jika anak sudah
beranjak besar, anak bisa diberi pasta gigi khusus anak. Anak masih perlu
diawasi setiap kali menyikat gigi, hingga setidaknya berusia 5 tahun. Hal ini
untuk memastikan bahwa ia tidak melewatkan menyikat seluruh sela gigi atau
menelan pasta gigi yang digunakan.(catatan : dosis Fluor yang terlalu banyak
dapat menyebabkan gangguan gastri-intestinal sampai toksisitas). Biasanya,
dalam perkembangan anak, pada usia 5 tahun anak sudah bisa diandalkan untuk
melakukan rutinitas dengan benar.
Bagi anak yang
belum mampu berkumur dengan baik, gunakan tisu atau kain lembut untuk
membersihkan sisa pasta gigi sebagai pengganti air
Hal-hal
yang perlu diperhatikan
- Kandungan gula
dalam makanan merupakan penyebab utama gangguan gigi. Jadi sebaiknya kurangi
jumlah dan frekwensi makanan sela/snack berupa roti, permen, makanan ringan,
dan minuman yang mengandung gula. Juga makanan yang lengket seperti coklat.
Jenis-jenis makanan tersebut boleh diberikan sewajarnya dan hindari menyimpan
dalam jumlah berlebih di rumah.
-
Hindari/batasi
minuman yang mengandung soda. Gula yang terdapat pada soda sangat merusak gigi,
sedangkan penambah rasa yang terdapat di dalamnya dapat mengikis dan merusak
email gigi. Bila minum soda gunakan sedotan untuk mengurangi kontak antara soda
dan gigi. Setelah
minum, segera kumur dengan air untuk mengurangi kerusakan gigi
-
Sebagai ganti
berikan keju, serta buah-buahan/jus dengan gula secukupnya sebagai makanan
sela.
-
Jangan menindik
lidah. Dapat tergigit pada waktu tidur, makan, ngobrol. Bisa menimbulkan
infeksi. Pada sejumlah kasus, infeksi itu menyebabkan lidah menjadi bengkak dan
mengganggu pernapasan
-
Membawa sikat
gigi bila pergi. Sering berkumur atau minum air putih untuk membantu mengurangi
bakteri dan sisa makanan
-
Ke
dokter gigi 6 bulan sekali
Kapan anak perlu dibiasakan untuk mengunjungi Dokter Gigi
?
Biasanya hal ini
baru dilakukan setelah gigi anak dapat masalah atau sakit, sehingga dirasa
perlu mendapat perawatan dokter gigi. Hal ini merupakan pendapat yang salah.
Kunjungan berkala ke dokter gigi termasuk dalam salah satu perawatan gigi yang
baik. Dianjurkan, agar kunjungan pertama anak ke dokter gigi dilakukan setelah
usia anak 3 tahun. Pada usia ini, secara psikis anak mulai memahami manfaat
berkunjung ke dokter gigi. Sebisa mungkin membawa anak bertemu dokter gigi
ketika giginya tidak sakit. Setelah kunjungan pertama, disarankan agar anak control
setiap 6 bulan sekali
Pada kunjungan
pertama, saat gigi anak tidak dalam keadaan sakit. Cara ini untuk menghindari
trauma dan membiasakan anak dengan suasana ruang klinik gigi atau praktek
dokter gigi. Bisa saja orang tua mengajak anak hanya sekedar untuk
kontrol/konsultasi, tanpa tindakan medis. Sehingga anak merasa gembira
Bila anak sakit
gigi (tidak terlalu berat), beberapa jenis obat bebas cukup menolong sebelum
sempat mendapat tindakan medis atau dibawa ke dokter gigi. Berikan tablet
Paracetamol 250 mg satu kali saja (hanya untuk anak yang usianya di atas 5
tahun. Di bawah usia 5 tahun tetap harus dengan resep dokter). Tablet jangan
sampai mengenai bagian yang sakit agar tidak menimbulkan sengatan kimia pada
jaringan gusi (catatan : penggunaan Paracetamol pada dosis besar/jangka lama
dapat menyebabkan kerusakan hati atau liver).
Kesimpulan :
Peran utama
perawatan kesehatan gigi anak dipegang oleh orang tua serta menjadi tanggung
jawab orang tua. Penanganan secara medis oleh dokter gigi hanya merupakan
rangkaian dan usaha mencapai mutu kesehatan gigi anak.
(dari berbagai sumber)